Pendidikan Sepanjang Hayat Dalam Pandangan Islam

Muhammad Zaki Akhbar Hasan, M.Pd.

 
  • Pendahuluan

Pendidikan sepanjang hayat (pendidikan seumur hidup―pen) (life long education) yang dimunculkan dalam dunia pendidikan pada tahun 1960-an oleh para perencana pendidikan untuk pembangunan di tingkat internasional, pada dasarnya merupakan fenomena yang wajar dan alamiah dalam kehidupan manusia. Kenyataan ini memberi petunjuk mengenai pentingnya belajar sepanjang hayat (life long learning) dalam kehidupan manusia untuk memenuhi kebutuhan belajar (learning needs) dan kebutuhan pendidikan (educational needs). Kehadiran pendidikan sepanjang hayat disebabkan oleh munculnya kebutuhan belajar dan kebutuhan pendidikan yang terus tumbuh dan berkembang sepanjang sepanjang alur kehidupan manusia (Sudjana, 2004: 225).

Pada tahun 1970 dikemukakan oleh UNESCO sebagai tahun pendidikan internasional (international education year), oleh karena dalam falsafah dan konsep tentang pendidikan. Konsep pendidikan yang sebelumnya selalu berorientasi pada dunia sekolah sejak saat itu mulai diragukan orang, artinya orang selalu bertanya-tanya apakah yang dimaksud dengan pendidikan hanya terbatas pada sekolah saja (Joesoef, 2004: 12). Terlebih setelah dilansirnya kritik pedas atas sistem pendidikan persekolahan dari Illich (1982) dan Freire (2000) dan beberapa pengkritik lainnya (lihat misalnya Sudjana, 2004: 80-97) pada kurun waktu tersebut semakin menambah keragu-raguan orang atas sistem pendidikan persekolahan.

Meskipun demikian, sebenarnya pendidikan sepanjang hayat masih mengakui pentingnya pendidikan formal. Akan tetapi pendidikan nonformal dipandang lebih tepat mengawal perjalanan pendidikan sepanjang hayat dibandingkan dengan pendidikan formal. Dalam hal ini, Sudjana (2004: 228) menjelaskan bahwa pendidikan sepanjang hayat dapat dijabarkan kedalam program-program pendidikan formal dan pendidikan nonformal. Dalam prakteknya, program-program pendidikan nonformal dipandang oleh sebagian pakar pendidikan lebih mampu mengembangkan kehadiran pendidikan sepanjang hayat untuk mengkondisikan tumbuhnya kesadaran, minat dan semangat masyarakat guna melaksanakan kegiatan belajar yang berkesinambungan.

Pendidikan sepanjang hayat, sebagaimana dijelaskan oleh UNESCO Institute for Education (1979, dikutip Sudjana, 2004: 226), memberikan arah supaya  pendidikan nonformal dikembangkan di atas prinsip-prinsip pendidikan sebagai berikut: (1) pendidikan hanya berakhir apabila manusia telah meninggalkan dunia fana ini; (2) pendidikan sepanjang hayat merupakan motivasi yang kuat bagi peserta didik untuk merencanakan dan melakukan kegiatan belajar secara terorganisasi dan sistematis; (3) kegiatan belajar ditujukan untuk memperoleh, memperbaharui, dan atau meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah dimiliki dan, yang mau tidak mau harus dimiliki oleh peserta didik atau masyarakat berhubung dengan perubahan yang terus-menerus sepanjang kehidupan; (4) pendidikan memiliki tujuan-tujuan berangkai dalam memenuhi dalam memenuhi kebutuhan belajar dan dalam mengembangkan kepuasan diri setiap insan yang melakukan kegiatan belajar; (5) perolehan pendidikan merupakan prasyarat bagi perkembangan kehidupan manusia, baik untuk memotivasi diri maupun untuk meningkatkan kemampuannya, agar manusia selalu melakukan kegiatan belajar guna memenuhi kebutuhan hidupnya; (6) pendidikan nonformal mengakui eksistensi pendidikan formal serta dapat menerima pengaruh dari pendidikan karena kehadiran kedua jalur pendidikan ini untuk saling melengkapi dan saling mendukung antara satu dengan yang lainnya.

Dari uraian di atas, yang menjadi catatan penulis adalah bahwa penyelenggaraan pendidikan sepanjang hayat yang ditawarkan oleh UNESCO tersebut lebih menitik beratkan kepada pendidikan formal dan nonformal, terlebih kepada pendidikan nonformal. Sehingga pendidikan sepanjang hayat sangat kental dengan nuansa formal-pragmatis. Nuansa pragmatisme semakin nampak dari pionir pendidikan sepanjang hayat itu sendiri, yaitu Paul Lengrand.  Paul Lengrand (1989) menyatakan bahwa pendidikan sepanjang hayat bertujuan untuk memperoleh keuntungan sosial, ekonomi, dan politik.

Pragmatisme sendiri pada dasarnya merupakan paham yang bebas nilai yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Pradja (1987: 79) menjelaskan bahwa pragmatisme merupakan aliran yang bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat praktis.

Paham bebas nilai ini sebenarnya memiliki makna yang tidak jauh berbeda  dengan paham dualisme (lihat Al-Attas, 1981: 197-199; An-Nahlawi: 1995: 165). Sementara paham dualisme akan bermuara kepada paham sekularisme (Al-Attas, 1981). Paham dualisme (dan paham Barat lainnya―pen) inilah yang tanpa disadari telah meracuni mayoritas sistem pendidikan persekolahan umat Islam di berbagai wilayah (An-Nahlawi, 1995: 166). Bahkan Al-Attas (1981: 182) melihat bahwa Indonesia dan Malaysia adalah dua contoh terbaik sebagai tempat berlimpah-ruahnya orang-orang yang tidak beradab, dan proses deislamisasi yang sistematis telah dilaksanakan sejak jaman kolonial, sehingga sekularisme tampak sekali mencolok dibandingkan dengan bagian-bagian lain dari dunia Islam.

Jika pendidikan sepanjang hayat yang ditawarkan oleh UNESCO berlandaskan filsafat pragmatisme, bahkan sekularisme yang sangat bertentangandengan Islam, lantas bagaimana pendidikan sepanjang hayat dalam pandangan Islam sendiri?

  • Pembahasan

Diskursus mengenai pendidikan sepanjang hayat bukanlah hal yang baru dalam tubuh umat Islam. Sebelum diperkenalkan oleh UNESCO dan para pionirnya pada kurun waktu tahun 1960 sampai dengan 1970-an, pendidikan sepanjang hayat sudah dikenal oleh umat Islam sejak kurang lebih 14 abad yang lalu. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW,  artinya: “Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan sampai ke liang lahad” (HR. Ibnu Abdul Bar).

Hadis di atas merupakan landasan bagi proses pendidikan Islam, bahwa proses pendidikan Islam berlangsung sepanjang hayat. Arifin (2008: 23) menjelaskan bahwa bilamana pendidikan Islam diartikan sebagai proses, maka diperlukan adanya sistem dan sasaran atau tujuan yang hendak dicapai dengan proses melalui sistem tertentu. Sementara terkait dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri―dalam konteks pendidikan sepanjang hayat tentunya―Daradjat (2012: 31) menjelaskan bahwa pendidikan Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir pula. Tujuan umum (pendidikan Islam―pen) yang berbentuk insan kamil (manusia yang sempurna―pen) dengan pola takwa dapat mengalami perubahan naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah, pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara, dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai. Orang yang sudah takwa dalam bentuk insan kamil, masih perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang-kurangnya pemeliharaan supaya tidak luntur dan berkurang, meskipun pendidikan oleh diri sendiri dan bukan dalam pendidikan formal. Tujuan akhir pendidikan Islam itu dapat dipahami dalam firman Allah SWT, artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim” (QS. Ali Imran: 102).

Kemudian Daradjat (2012: 31) melanjutkan bahwa mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah sebagai muslim yang merupakan ujung dari takwa sebagai akhir dari proses hidup jelas berisi kegiatan pendidikan. Inilah akhir dari proses pendidikan itu yang dapat dianggap sebagai tujuan akhirnya. Insan kamil yang mati yang akan menghadap Tuhan-nya merupakan tujuan akhir dari proses pendidikan Islam.

Pendidikan sepanjang hayat sebenarnya merupakan sebuah sistem konsep-konsep pendidikan yang menerangkan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar-mengajar yang berlangsung dalam keseluruhan kehidupan manusia (Mudyahardjo, 2001: 169). Jadi, yang menjadi inti pembahasan dari pendidikan sepanjang hayat sebenarnya adalah penegasan bahwa proses pendidikan itu berlangsung secara terus-menerus sepanjang hidup manusia itu sendiri, dan berakhir ketika manusia berjumpa dengan kematian.

Selanjutnya, untuk mengetahui bagaimana pendidikan sepanjang hayat dalam pandangan Islam, atau secara lebih ringkasnya pendidikan Islam sepanjang hayat ini, penulis harus terlebih dahulu mengupas makna pendidikan Islam itu sendiri. Karena, pembahasan mengenai pendidikan Islam merupakan pintu masuk, bahkan inti dari pembahasan mengenai pendidikan Islam sepanjang hayat. Jika ada proposisi isi dan wadah, maka pendidikan Islam merupakan isi, sementara rentangan hidup manusia muslim adalah wadahnya.

Sudah banyak pemikir Islam dan ahli pendidikan Islam merumuskan konsep pendidikan Islam. Akan tetapi, dari sekian banyak pemikir dan ahli yang merumuskan konsep pendidikan Islam, kiranya menurut hemat penulis, perumusan konsep pendidikan Islam dari Al-Attas (1981) dirasa lebih selaras dengan maksud Islam atas tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Ditambah, dalam perumusan konsep pendidikan Islam oleh Al-Attas ini, dibangun atas dasar semangat kritik dan koreksi bahkan penyangkalan atas formulasi dan pelembagaan pengetahuan Barat yang bersifat sekuler dan bebas nilai yang keliru itu. Sehingga, apa yang ditulis oleh Al-Attas itu, sebenarnya bersesuaian dengan apa yang ditulis oleh penulis sekarang ini. Karena penulis pun membuat tulisan ini dibangun atas dasar kritik dan koreksi atas formulasi pendidikan sepanjang hayat yang dibentuk oleh Barat (UNESCO dan para pionirnya), dimana yang menjadi landasan pendidikannya adalah paham pragmatisme yang pada akhirnya akan bermuara pada sekularisme.

Istilah “pendidikan Islam” mempunyai banyak padanan kata―atau setidak-tidaknya berhubungan dengan konsep pendidikan Islam―dalam bahasa Arab, seperti: tarbiyah, ta’lim, ta’dib, dan riyadhah (Ramayulis, 2008: 14-17). Selain itu Izzan dan Saehudin (2012: 3) menambahkan dua istilah lain, yaitu: tadris dan tahdzib. Dari sekian banyak istilah bahasa Arab yang sepadan atau setidak-tidaknya berhubungan dengan konsep pendidikan Islam itu, Al-Attas (1981) sendiri menjatuhkan pilihannya pada konsep ta’dib.

Bagi Al-Attas (1981: 222), pendidikan Islam adalah ta’dib. Ta’dib adalah meresapkan dan menanamkan adab kepada manusia. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW, artinya: “Tuhanku mendidikku (addaba) dan membuat pendidikanku (ta’dib) paling baik”.

Berkaitan dengan adab ini, Al-Attas (1981: 148-149) menjelaskan bahwa adab menunjuk kepada pengakuan, atas tempat, kedudukan dan kondisi dalam hidup yang benar dan semestinya, dan kepada disiplin pribadi untuk mau ikut serta secara positif memainkan peranan seseorang sesuai dengan pengakuan itu, terjadinya adab pada seseorang atau di dalam masyarakat sebagai suatu keseluruhan mencerminkan kondisi keadilan. Hilangnya adab menyiratkan hilangnya keadilan, yang secara bergantian memperlihatkan kebingungan dalam pengetahuan.

Semua jenis pengetahuan berasal dari Allah SWT. Penggolongan pengetahuan terbagi menjadi dua atas dasar bahwa manusia mempunyai dua jiwa: yang satu adalah santapan dan kehidupan jiwa itu, dan yang lain adalah kelengkapan yang dapat digunakan untuk melengkapi dirinya dalam dunia untuk mengejar tujuan-tujuannya yang pragmatis. Pengetahuan jenis pertama diberikan oleh Allah melalui wahyu-Nya pada manusia dan ini berupa kitab suci Al-Qur’an. Selain Al-Qur’an, pengetahuan lain yang termasuk kedalam kategori pertama ini adalah sunah, syariah, ilmu laduni, dan hikmah. Semua pengetahuan ini pada akhirnya bergantung kepada rahmat Allah, dan karena menuntut perbuatan-perbuatan dan amal pengabdiaan kepada Allah. Untuk mencapai pengetahuan ini, maka pengetahuan prasyarat, seperti: unsur dasar Islam (Islam, iman dan ihsan), prinsip, arti dan maksudnya serta pengertian dan pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari, menjadi perlu. Pengetahuan jenis kedua adalah pengetahuan tentang ilmu-ilmu yang diperoleh melalui pengalaman, pengamatan dan penelitian. Pengetahuan ini mempunyai arti luas, deduktif dan berkaitan dengan objek-objek yang bernilai pragmatis. Pengetahuan jenis pertama diberikan oleh Allah kepada manusia melalui pengungkapan langsung, sedangkan yang kedua melalui perenungan dan usaha penyelidikan rasional dan didasarkan atas pengalamannya tentang segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindera, dipahami, dipikirkan. Yang pertama menunjuk kepada pengetahuan tentang kebenaran-kebenaran objektif yang perlu untuk pedoman kita, dan yang kedua menunjuk kepada pengetahuan tentang data-data yang dapat ditangkap pancaindera dan dimengerti akal pikiran yang diperoleh (kasbi) untuk suatu kegunaan atau pengertian kita. Kedua jenis pengetahuan ini harus diperoleh melalui perbuatan yang sadar, karena tidak ada pengetahuan tanpa perbuatan sebagai hasilnya dan tidak ada perbuatan yang patut diberi perhatian tanpa pengetahuan. Pengetahuan jenis pertama menyingkapkan misteri Wujud dan Eksistensi dan mengungkapkan hubungan sejati antara diri manusia dan Tuhannya. Karena pengetahuan jenis tersebut bagi manusia bertalian dengan tujuan akhir pengetahuannya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengetahuan tentang prasyarat-prasyaratnya itu menjadi dasar dan landasan esensial untuk pengetahuan jenis pertama, maka pengetahuan jenis kedua itu saja tidak dapat menuntun manusia dengan sebenarnya dalam hidupnya. Ia hanya akan membingungkan, mengacaukan dan menjeratnya liku-liku pencarian yang tanpa akhir dan tanpa tujuan (Al-Attas, 1981: 212-216).

Kita juga melihat ada suatu batas bagi manusia bahkan terhadap pengetahuan jenis pertama dan tertinggi itu, sedangkan untuk pengetahuan macam kedua tiada batas yang terdapat, sehingga kemungkinan pengembaraan yang terus menerus yang tanpa terpacu oleh penipuan intelektual dan penipuan diri dalam keragu-raguan dan keingin tahuan yang tetap adalah selalu nyata. Manusia sebagai perseorangan harus membatasi pencarian individualisnya untuk pengetahuan jenis kedua sampai kebutuhan-kebutuhan praktisnya dan disesuaikan dengan sifat serta kemampuannya sehingga ia dapat menenpatkan dua macam pengetahuan itu dan dirinya pada tempat-tempat yang benar dalam hubungandengan dirinya yang sejati sehhingga terpelihara keadaan adil. Untuk alasan inilah dan agar tercapai tujuan keadilan, maka Islam membedakan nilai pencarian untuk kedua jenis pengetahuan itu. Yang pertama―pengetahuan tentang prasysarat-prasyarat―wajib bagi semua orang muslim (fardu ‘ain), sedangkan pengetahuan jenis kedua wajib hanya sebagian kaum muslim (fardu kifayah). Dan nilai kewajiban bagi yang disebut belakangan memang dapat dialihkan kepada nilai yang disebut lebih dahulu dalam hal mereka yang telah diwajibkan dirinya sendiri menuntut ilmu jenis kedua untuk membina diri. Nilai wajib untuk menuntut ilmu itu terbagi menjadi dua kategori agar terdapat keadilan bagi pengetahuan dan orang yang mempelajarinya. Soalnya, semua pengetahuan tentang prasyarat, yaitu pengetahuan jenis pertama, itu baik untuk semua manusia, sedangkan tidak semua pengetahuan jenis kedua baik untuknya. Sebabnya, orang menuntut pengetahuan jenis ini, yang membawa pengaruh yang sukup dalam mementukan peranan dan kedudukan sekulernya sebagai warga negara, mungkin tidak bisa menjadi seorang yang baik. konsep “seorang yang baik” dalam Islam tidak hanya mencakup “baik” dalam pengertian sosial seperti umumnya dimengerti orang, tetapi ia juga harus pertama-tama baik terhadap dirinya, adil terhadap dirinya, karena seandainya ia tidak adil terhadap dirinya, bagaimana ia dapat sungguh-sungguh adil terhadap orang lain. Jadi dapat dilihat bahwa dalam Islam: (a) pengetahuan mencakup iman dan kepercayaan; dan (b) tujuan menuntut ilmu adalah penanaman kebaikan dan keadilan dalam diri manusia sebagai seorang manusia yang utuh dan diri pribadi, bukan hanya dalam diri manusia sebagai warga negara atau bagian integral dalam masyarakat (Al-Attas, 1981: 216-217).

Dari kerangka makna pendidikan Islam yang dikemukakan oleh Al-Attas tersebut, bisa diketahui bahwa pendidikan dalam pandangan Islam memiliki “core” berupa “adab”. Adab akan menjadi jantung pendidikan Islam, karena adab akan menuntun kehidupan umat Islam yang sesungguhnya.

Mengambil kerangka konsep dari Al-Attas di atas, bahwa pendidikan Islam sama dengan ta’dib, ta’dib sendiri berarti menanamkan adab kepada manusia. Sementara adab merupakan kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2013: 7). Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak. Dan Rasulullah SAW sendiri merupakan pendidik Islam pertama yang berhasil menyempurnakan akhlak (Daradjat, 2012).

Sementara itu, adab sendiri berakar pada sikap keadilan. Keadilan merupakan sikap menghargai eksistensi lain. Sehingga keadilan bisa diartikan menempatkan sesuatu pada aturannya masing-masing.

Sikap adil ini harus diterapkan pada semua wujud, baik itu kepada Tuhan, lingkungan bahkan diri sendiri. Sehingga pada akhirnya manusia dituntut untuk berlaku adil kepada Tuhan, manusia dituntut untuk berlaku adil pada lingkungan, bahkan berlaku adil inipun harus diterapkan kepada diri sendiri.

Dari situ bisa dipahami bahwa pendidikan Islam merupakan sebuah upaya yang dilakukan untuk membentuk manusia yang beradab yang memiliki sikap adil kepada Tuhan, lingkungan dan diri sendiri.

Manusia yang beradab dalam pandangan Islam sebenarnya adalah manusia yang bertauhid. Manusia yang bertauhid adalah manusia yang mempercayai bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan dengan segala bentuk ketauhidannya.

Manusia yang bertauhid adalah manusia yang pasrah dengan segala ketentuan-ketentuan Tuhan, manusia yang pasrah dengan ketentuan-ketentuan Tuhan inilah yang disebut manusia beradab, manusia yang mampu bersikap adil. jadi sebenarnya ada satu korelasi antara adab dan tauhid.

Sementara itu, sebagaimana dikemukakan oleh Al-Attas sendiri bahwa hilangnya adab adalah sumber hancurnya ilmu pengetahuan. Hilangnya adab menyiratkan hilangnya tauhid, dan hal ini berimbas pada hancurnya ilmu pengetahuan. Dari contoh sederhana berikut bisa diketahui hal tersebut bisa terjadi. Orang yang tidak bertauhid dengan mantap, ketika mendapatkan suatu kesusahan hidup (misalnya saja sakit) maka ia akan pergi ke dukun, dan mempercayai apa-apa yang dikemukakan oleh dukun tersebut, meskipun tidak rasional sama sekali. Sedangkan bagi orang yang bertauhid ketika mengalami sakit, maka ia akan melakukan upaya-upaya rasional dengan pergi ke dokter sambil terus meminta pertolongan Allah agar dirinya segera sembuh. Upaya-upaya rasional inilah yang menumbuhkembangkan ilmu pengetahuan. Atau contoh lain yang dikemukakan oleh Abdurrahim yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah SWT menciptakan hukum-hukum atas alam semesta, dan tidak akan pernah sekalipun akan melenceng dari hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah tersebut. Tugas manusia adalah mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai dengan alur hukum alam yang diciptakan oleh Allah SWT tersebut.  Contoh yang dikemukakan oleh Abdurrahim ini pun merupakan penegasan bahwa adanya adab yang diturunkan dari sikap tauhid merupakan penegak, penggerak, dan pengembang kemajuan  ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan bisa berkembang dengan baik karena manusia berlaku adil terhadap Tuhan, lingkungan dan dirinya sendiri sekaligus. Pengembangan ilmu pengetahuan sebenarnya merupakan tugas kekhalifahan  manusia, yaitu untuk memakmurkan bumi, sementara memakmurkan bumi  ini terkait erat dengan pengembangan ilmu pengetahuan  

Itulah adab, bersikap adil yang diturunkan dari tauhidullah sebagai pondasinya merupakan “core” pendidikan Islam. Berbeda dengan pendidikan barat yang sekuler, di dalam pendidikan Islam, karena ada prinsip tauhid tersebut, maka pendidikan Islam memiliki dua dimensi sekaligus, yaitu dimensi ketuhanan dan dimensi keduniaan, dan kedua ukuran ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dimensi ketuhanan merupakan basis tauhid bagi pengembangan ilmu pengetahuan secara khusus ataupun aktivitas manusia lainnya secara umum, supaya tidak terjebak pada sekularisme, humanisme dan syirik. Bukankah di dalam salat juga selalu dibacakan bahwa hidup dan mati seorang hamba adalah milik Allah SWT. Sementara dimensi keduniaan merupakan sisi praktis dari ilmu pengetahuan sendiri, dengan tetap berlandaskan ajaran tauhid tersebut.

Selanjutnya, Islam memandang bahwa pendidikan Islam, atau dengan kata lain mengadabkan manusia itu berlangsung sepanjang hayat, hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW: “tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai masuk liang lahad”. Jadi, tidak ada proses pendidikan dalam berbagai bentuknya terhenti di tengah jalan ketika manusia itu masih hidup. Pendidikan Islam akan terhenti ketika manusia merasakan mati. Mati dalam keadaan husnul khatimah atau mati dalam keadaan takwa itulah yang diharapkan oleh Islam (Daradjat, 2012).

  • Penutup

Dari pembahasan di atas, bisa disimpulkan bahwa pendidikan sepanjang hayat dalam pandangan Islam, bukanlah pendidikan sepanjang hayat ala Barat yang berpahamkan sekularisme, materialisme, ataupun humanisme, dimana nilai-nilai ketuhanan dinegasikan, dan hanya untuk mengejar kepentingan-kepentingan keduniaan semata, seperti misalnya ekonomi dan politik selama hidupnya.

Sementara itu, pendidikan sepanjang hayat dalam pandangan Islam adalah sebuah proses sepanjang hayat untuk mengadabkan manusia, sebuah proses dimana manusia dibentuk untuk memiliki sikap adil kepada Tuhan, lingkungan dan dirinya sendiri sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT sebagai satu-satunya tuhan (tauhidullah). Dari sikap adil tersebut akan memunculkan perkembangan ilmu pengetahuan yang baik, pengembangan ilmu pengetahuan ini adalah bentuk dari tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi yaitu memakmurkan bumi. Ada dua dimensi yang melingkupi pendidikan sepanjang hayat dalam pandangan Islam yaitu dimensi ketuhanan dan dimensi keduaniaan. Dimensi ketuhanan merupakan basis tauhid bagi pengembangan ilmu pengetahuan secara khusus ataupun aktivitas manusia lainnya secara umum, supaya tidak terjebak pada sekularisme, humanisme dan syirik. Sementara dimensi keduniaan merupakan sisi praktis dari ilmu pengetahuan sendiri, dengan tetap berlandaskan ajaran tauhid tersebut

Daftar Pustaka

Al-Attas, Syed Muhammad Al-Naquib. Islam dan Sekularisme, Bandung: Pustaka, 1981.

An-Nahlawi, Abdurrahman. Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insani Press, 1995.

Arifin, M. Ilmu Pendidikan Islam: “Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner”, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

Azra, Azyumardi. Pendidikan Islam: “Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru”, Jakarta: Logos, 2000.

Baiquni, NA dkk. Indeks Al-Qur’an: “Cara Mencari Ayat Al-Qur’an”, Surabaya, Arkola, 1996.

Daradjat, Zakiah. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2012.

Freire, Paulo. Pendidikan Kaum Tertindas, Jakarta: LP3ES, 2000.

Illich, Ivan. Bebas Dari Sekolah, Jakarta: Sinar Harapan, 1982.

Izzan, Ahmad dan Saehudin. Tafsir Pendidikan: “Studi Ayat-ayat Berdimensi Pendidikan”, Jakarta: Pustaka Aufa Media, 2012.

Joesoef, Soelaiman. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara, 2004.

Lengrand, Paul. Pengantar Pendidikan Sepanjang Hayat, (Terjemahan An Introduction to Lifelong Education oleh Lembaga Studi Ilmu-ilmu Kemasyarakatan Lembaga Bhineka Tunggal Ika) Jakarta: Haji Masagung, 1989.

Pradja, Juhaya S. Aliran-aliran Filsafat dari Rasionalisme hingga Sekularisme, Bandung: Alva Gracia, 1987.

Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2008.

Sudjana, SD. Pendidikan Nonformal: “Wawasan, Sejarah Perkembangan, Filsafat, Teori Pendukung, Asas”, Bandung: Falah Production, 2004. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikdan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2003.

About admin