Pendidikan Islam Sebagai Kebutuhan Masa Depan

Drs. Abdul Kodir, M.Pd.I.

 

Globalisasi telah memberikan dampak yang cukup signifikan dalam kehidupan manusia dewasa ini, baik secara positif maupun negative. Seperti berkembangnya teknologi diberbagai bidang, meningkatnya sarana dan prasarana dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat memberikan kemudahan dalam melakukan segala hal. Disisi lain, globalisasi juga memberikan efek negatif seperti adanya  penyalahgunaan obat-obatan terlarang, seks bebas, kriminalitas, dan lain sebagainya. Selain itu, gaya hidup yang hedonistic dan gaya hidup yang konsumeristik, juga telah memberikan dampak yang cukup besar dalam pola hidup bermasyarakat dewasa ini. Cara-cara yang dilakukan untuk memperoleh kemakmuran sudah menyimpang ke arah negative tanpa mengindahkan nilai-nilai religiusitas dan moral. Adanya perdagangan bebas atau pasar bebas merusak perekonomian masyarakat. Persaingan yang berlangsung secara tidak sehat dapat menimbulkan sifat licik, serakah, dan egois.

Problematika manusia hari ini yang paling serius dan memerlukan penanganan segera adalah krisis mental. Suatu krisis dimana manusia kehilangan kediriannya karena pengaruh eksternal, baik social maupun ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah merubah wajah dunia sangat cepat. Sehingga tidak sedikit manusia yang telah kehilangan nuraninya dan secara sadar ataupun tidak memandang manusia sebagai mesin. Hidup tanpa hati nurani, jauh dari pertimbangan rasa kemanusiaan, pembunuhann, penindasan, pemerkosaan adalah tontonan biasa yang bisa disaksikan oleh siapapun tanpa mengenal usia. Oleh karena itu, penanganan yang paling utama dari permasalahan semua itu  adalah bagaimana mendidik manusia  agar kembali ke dalam kefitrahan sebagai manusia yang memiliki akal, hati dan obsesi atau keinginan sebagai makhluk social yang tidak bisa hidup sendiri, tapi membutuhkan  keharmonian dengan sesama dan alam.  Hal inilah yang menjadikan manusia membutuhkan pendidikan khusus yang berkarakter islami sebagai mana yang dijelaskan oleh Muhammad Quthb dalam Manhaj Al-Tarbiyah Al-Islamiyah bahwa tujuan pendidikan islam adalah “membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya , guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah”. (Muhammad Quthb, 1400 H: 13)

Pendidikan merupakan proses budaya dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat manusia sepanjang masa. Pendidikan harus bersifat dinamis dan selalu dihadapkan pada perubahan zaman. Untuk itu, pendidikan harus didesain mengikuti dinamika zaman. Apabila  pendidikan tidak didesain mengikuti irama perubahan zaman, maka pendidikan akan ketinggalan dengan perkembangan zaman itu sendiri. Karena pendidikan  pada essensinya diambil dari masyarakat dan didesain mengikuti kebutuhan perubahan yang terjadi  di masyarakat. Pendidikan pada masyarakat agraris haruslah didesain berbeda dengan masyarakat industry., sebab pendidikan harus relevan dengan kebutuhan  zaman dan kebutuhan masyarakat pada masanya, baik konsep, materi kurikulum dan fungsi serta tujuannya.

Pendidikan islam sekarang ini dihadapkan pada tantangan kehidupan manusia modern. Dengan demikian, pendidikan islam harus diarahkan pada kebutuhan masyarakat modern. Dalam menghadapi suatu perubahan, “diperlukan suatu desain paradigma baru di dalam menghadapi tuntutan-tuntutan yang baru, demikian kata filosof Kuhn. Menurut Kuhn, apabila tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigma lama, maka segala usaha yang dijalankan akan memenuhi kegagalan” (H.A.R Tilar, 1998:245))

Islam mengintroduksikan dirinya sebagai “pemberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus” (Q.S. Al-Faatihah/1 : 6). Petunjuk yang member kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok dan petunjuk-petunjuk ilahi itu telah disampaikan dan diajarkan oleh Allah melalui utusan-Nya, Muhammad SAW. Secara factual dalam sejarah Rasulullah telah berhasil mendidik manusia dengan pengetahuan yang benar berkaitan dengan alam fisik dan metafisika, sehingga Allah mengintruksikan supaya manusia mencontoh kepada beliau, karena di dalam diri Rasulullah telah ada suri tauladan yang paling baik.

Sepanjang sejarah perjalanan perkembangan pendidikan di dunia islam, peradaban islam pernah mencapai puncaknya, ketika masa kekhalifahan Abbasiyah yang dikenal dengan “the golden age of Islam”. Pada masa itu pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan peradaban. Pendidikan islam tidak akan sempurna meresap dalam sanubari, jika tidak disertai dengan didikan dan contoh yang baik pada seluruh generasi. Pendidikan islam bukan sekedar “transfer of knowledge” ataupun “transfer of Training”, tetapi lebih merupakan suatu system yang ditata di atas pondasi keimanan dan kesalehan,  suatu system yang terkait secara  langsung dengan Tuhan. Pendidikan islam mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Allah. Pendidikan islam adalah upaya sistematis untuk membantu peserta didik agar tumbuh berkembang mangaktualisasikan potensinya berdasarkan kaidah-kaidah moral Al-Qu’an, ilmu pengetahuan dan ketrampilan hidup (Life skill).

Demikian juga dengan tugas kekhalifahan yang diemban oleh manusia,  mengaharuskan adanya empat sisi yang saling berkaitan : 1. Pemberi tugas, yaitu Allah. 2. Penerima tugas, yaitu manusia baik perorangan ataupun kelompok. 3. Tempat atau lingkungan manusia tinggal. 4. Materi penugasan yang harus  dilaksanakan oleh manusia. Tugas kekhalifahan ini  tidak akan berhasil apabila materi penugasan tidak dilaksanakan dengan baik oleh sipenerima tugas tanpa mencontoh keteladanan Rasulullah sebagaimana yang diperintahkan Allah dan tanpa memperhatikan lingkungan yang dapat berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Karena itu, penjabaran tugas kekhalifahan harus sejalan dan  berdasarkan identitas, pandangan hidup, serta nilai-nilai  yang terdapat dalam masyarakat atau Negara tersebut.

Di negara  Indonesia masalah pendidikan  telah diatur oleh sebuah  Undang-Undang Pendidikan Nasional. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Bab 2 Pasal 3, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Dari fungsi dan tujuan tersebut, ada dua hal penting yang harus diwujudkan oleh lembaga pendidikan. Pertama, mengembangan kemampuan yang berkaitan dengan otak yang merujuk pada kualitas akademik. Kedua, membentuk watak yang berkaitan dengan hati yang merujuk pada lulusan yang berakhlak mulia.

Bila kita merujuk kepada system pendidikan islam dan pendidikan nasional di Negara republic Indonesia, maka secara umum, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu membentuk manusia yang memiliki rasa tanggung jawab sebagai makhluk Tuhan yang memiliki kewajiban melaksanakan seluruh perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya, dengan beramal kebaikan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan memiliki kecerdasan intelektual untuk menuntun manusia sebagai makhluk social, sebagai hamba Tuhan (Abdullah) sekaligus sebagai wakil tuhan (Khalifah) yang memiliki tugas  sebagai pemakmur bumi dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya, sehingga membawa kepada keselamatan dan kesejahteraan di bawah keridloan Tuhan.  Pendidikan islam sperti inilah yang sangat dibutuhkan oleh manusia di era globalisasi yang sarat dengan berbagai tantangan yang memerlukan upaya dan konsentrasi maksimal untuk menciptakan pendidikan yang dapat bersaing di ruang global.

  • Pengertian Pendidikan Islam

Telah banyak para ahli memberikan pengertian tentang arti dan definisi tentang pendidikan islam. Dalam bahasa arab, para pakar pendidikan pada umumnya menggunakan kata tarbiyah untuk arti pendidikan, kecuali M. Naquib al-Atas, ia tidak setuju kata tarbiyah untuk arti pendidikan. Karena menurutnya, kata tarbiyah lebih mengacu  kepada arti menghasilkan dan mengembangkan segala sesuatu yang bersifat fisik dan material yang diturunkan dari konsep latin (educare) atau educe (inggris). Menurutnya kata dalam bahasa arab yang paling tepat untuk pendidikan adalah al-Adab yang secara substansial mengacu kepada pemberian pengetahuan, ilmu,  pengalaman, tindakan, keadilan, nalar, jiwa, hati, kepribadian dan sebagainya. (M. Naquib al-Atas, 1994:65).

     Secara sederhana pendidikan islam adalah pendidikan yang berdasarkan ajaran islam, namun dalam arti yang lebih luas pendidikan islam memiliki pengertian yang bermacam-macam. Menurut Ahmad D. Marimba pendidikan islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hokum-hukum islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran islam atau dalam kesempatan lain, beliau menyebutnya dengan kepribadian muslim (Ahmad D. Marimba, 1980:23-24). Sedangkan menurut Burlian Somad bahwa pendidikan islam itu adalah pendidikan yang memiliki tujuan menciptakan manusia berderajat tingi dengan ukuran Allah (Burlian Somad, 1981:21). Dari dua pengertian itu, jika direnungkan, syariat islam tidak akan diamalkan kalau hanya diajarkan saja, tetapi harus dibangun melalui proses pendidikan. Rasulullah telah mengajak kepada semua manusia untuk beriman dan beramal serta berakhlak baik sesuai ajaran islam dengan berbagai metode dan pendekatan. Karena pendidikan islam tidak hanya bersifat teoritis, tapi juga praktis dan ajaran islam tidak memisahkan antara iman dan amal.

Menurut Soekarno dan Ahmad Supardi, pendidikan islam terjadi sejak nabi Muhammad diangkat menjadi Rasulullah  di Mekah dan beliau sendiri sebagai gurunya. Pendidikan masa ini merupakan proto type yang terus menerus dikembangkan oleh umat islam untuk kepentingan pendidikan pada zamannya. Pendidikan islam mulai dilaksanakan Rasulullah setelah mendapat perintah dari Allah agar beliau menyeru kepada Allah, sebagaimana termaktub  dalam al-Qu’an surat al_mudatsir ayat 1 – 7. Menyeru berarti mengajak dan mengajak berarti mendidik (Hanun Asrohah, 1999:12)

Pendidikan menurut islam didasarkan pada asumsi bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu dengan potensi bawaan seperti potensi ilahiyah, potensi untuk memikul amanah dan tanggung jawab, potensi kecerdasan dan potensi fisik. Dengan potensi ini manusia mampu berkembang secara aktif dan interaktif dengan lingkungannya dan dengan bantuan orang lain atau pendidik secara sengaja  manusia muslim mampu menjadi abdullah dan khalifah Allah, guna mambangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah.

Pendidikan islam sumbernya adalah al-Qur’an yang bersifat absolute  dan al-hadits yang selalu up to date pada setiap zaman, tempat dan komunitas. Sehingga agama mewajibkan untuk menuntutnya sebagai landasan kebutuhan social dan dunia pendidikan itu sendiri. Sedangkan pendidikan menurut islam akan bernilai relative dari sisi tempat, waktu dan komunitasnya. Akan tetapi, walaupun telah dilakukan usaha-usaha pendidikan islam, namun dunia pendidikan islam masih saja dihadapkan pada beberapa masalah. Al-Qu’an dan al-hadits masih belum berhasil dijadikan sebagai sumber otentik pengembangan pemikiran teoritis ataupun praktis bagi tujuan merumuskan panduan/petunjuk kehidupan dunia. Lebih-lebih ketika dihadapkan pada arus deras globalisasi yang sarat dengan tantangan, sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggerus nilai-nilai dasar kemanusian manusia akibat dari eksoduse pendidikan barat yang bersifat sekuler dan materialistic yang mewabah ke dunia islam. Pragmatisme dan hedonistic menjadi budaya manusia modern, jauh dari nilai-nilai ketuhanan, seolah-olah  tuhan telah mati (God of Deat) dalam diri dan kedirian manusia modern. Manusia hari ini sudah menganggap dirinya sebagai penguasa dunia, siapa yang kuat dia yang memiliki segalanya. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dijadikan petunjuk (huddan) dalam meraih kesuksessan dalam  kehidupan. Manusia modern jadi penghamba iptek. Secara sadar ataupun tidak manusia hari ini sudah banyak yang menganggap seluruh persoalan akan bisa selesai dengan iptek. Tuhan sudah tidak pernah dilibatkan dalam menyelesakan  problematika kehidupan. Hal-hal yang berbau transenden dianggap tabu dan kuno. Agama dan ritual keagamaan hanya dijadikan symbol dan perhelatan formal yang miskin makna.

Dalam kondisi kepanikan spiritual seperti itu, Fazlur Rahman mengusulkan ada beberapa pembaharuan yang harus di lakukan dalam pendidikan islam, pertama pendidikan islam harus berorientasi kepada kehidupan dunia dan akherat dengan tetap mengacu kepada sumber al-Qur’an. Karena menurutnya, bahwa  : “Tujuan Pendidikan dalam pandangan al-Qur’an adalah untuk mengembangkan kemampuan inti manusi, sehingga ilmu pengetahuan yang diperolehnya akan menyatu dengan kepribadian kreatipnya”. Kedua, beban psikologis umat islam dalam menghadapi barat harus segera dihilangkan, dengan cara melakukan kajian islam yang menyeluruh secara historis dan sitematis mengenai perkembangan disiplin ilmu islam, seperti teologi, hokum. etika, hadits, ilmu-ilmu social dan filsafat dengan tetap berpegang kepada al-Qur’an sebagai penilai. Ketiga, sikap negative umat islam terhadap ilmu pengetahuan harus dirubah. Sebab menurutnya, ilmu pengetahuan meskipun datangnya dari barat, tidak ada yang salah, yang salah adalah penggunannya (Fazlu rahman, 1983:67). Alternatif solusi yang diajukan fazlur Rahman memberikan justifikasi umat islam harus kembali mendesain ulang tentang pendidikan islam.dengan melakukan islamisasi ilmu atau sains yang islami seperti  yang digagas oleh Ismail Raji al-Faruqi dan M. Naquib al-Attas dalam rangka menjawab fenomena abad 21. 

  • Aspek-Aspek Pendidikan Islam

Pendidikan islam sebagaimana pendidikan lainnya memiliki berbagai aspek yang dapat dilihat dari cakupan materi didikannya, seperti pendidikan fisik, akal, agama (akidah dan syariah), akhlak, kejiwaan, rasa keindahan dan social kemasyarakatan (Zakiah Daradjat, 1994:1). Dengan dasar pengertian seperti ini, pendidikan islam adalah sejumlah pembinaan karakter yang diorientasikan untuk orang-orang islam, dengan  sifat pembinaan yang bersifat relative sesuai dengan waktu dan tempatnya.

Pendapat lain mengatakan bahwa aspek pendidikan islam pada prinsipnya ada dua, yaitu materi didikan yang berkenaan dengan masalah keduniaan dan  materi didikan yang berkenaan dengan masalah keakhiratan. Hal ini didasarkan pada kandungan ajaran islam yang mengajarkan kebahagiaan  hidup di dunia dan akhirat (M. Natsir, 1954: 55-61). Seharusnya memang, pendidikan islam tidak mendikotomikan ilmu pengetahuan yang membahas keduniawiyan, seperti ilmu pengetahuan social dan ilmu pengetahuan alam dan ilmu humaniora  serta ilmu pengetahuan yang membahas keakhiratan, seperti aqidah, syariah, fiqh ibadah dan lainnya sesuatu yang saling menopang dan menyatu dalam sebuah bingkai ilmu pengetahuan yang dapat menghantarkan manusia kepada keselamatan dunia dan akherat.

Selanjutnya yang masih termasuk ke dalam aspek pendidikan islam adalah  aspek kelembagaan. Pendidikan islam mengenal adanya pendidikan yang dilaksanakan di rumah, mesjid, pesantren, dan madrasah sampai perguruan tinggi, Institut  dan Universitas dengan berbagai macam fakultas, program study  dan pendekatannya. Di Indonesia kita mengenal adanya Madrasah Diniyah yang seratus persen mengajarkan pengetahuan agama, madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah yang mengajarkan tiga puluh persen pengetahuan agama dan sisanya pengetahuan umum. Madrasah-madrasah tersebut ada yang dikelola oleh swasta dan Negara (Abuddin Nata, 2000:294-295).

Sebagai sebuah system, pendidikan islam juga  adalah suatu kegiatan yang di dalamnya mengandung asfek tujuan, kurikulum, guru (tenaga pendidik), metode, pendekatan, sarana prasarana, lingkungan, administrasi dan sebgainya yang antara satu dan lainnya saling berkaitan dan membentuk suatu system terpadu (Ahmad Tafsir, 1994:47-51). Pendidikan islam adalah entitas dari berbagai pemikiran, nilai, metode, tujuan dan orientasi yang terkandung dalam al-Qur’an dan hadits yang berhubungan dengan semua aspek kehidupan manusia. Bila umat islam mengerti dan memahami serta mau mengaplikasikan apa yang terkadung dalam asfek-asfek pendidikan islam, niscaya pendidikan  islam akan tampil sebagai alternative solusi yang dibutuhkan oleh manusia modern

  • Kesimpulan

Berdasar pada uraian-uraian tersebut, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pendidikan islam adalah upaya membimbing, mengarahkan dan mebina peserta didik yang dilakukan secara sadar dan terencana agar terbina suatu kepribadian yang utama sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam.
  2. Pendidikan islam  adalah pendidikan karakter, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, mewujudkan, dan menebar kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati agar menjadi manusia yang bertaqwa.. Tujuannya adalah agar terjadi perubahan kualitas siswa ditinjau dari aspek afektif, kognitif dan psikomotorik.
  3. Pendidikan islam adalah pendidikan yang tidak mendikotomikan bidang keilmuan. Ilmu di dalam islam adalah sama penting dan derajatnya, baik itu ilmu keduniawiyan ataupun ilmu keakheratan Karena ilmu adalah media manusia untuk menuju kebahagiaan dunia dan kebahagiaan negeri akhirat. Itulah missi yang diemban oleh islam.
  4. Pendidikan islam adalah pendidikan komprehensif yang dibutuhkan oleh manusia modern yang sedang dilanda krisis mental dan moral. Karena pendidikan islam adalah entitas dari berbagai pemikiran, nilai, metode dan tujuan yang bersumber dari wahyu Tuhan yang absolute dan hadits nabi yang selalu up to date sepanjang zaman.

 

Daftar Pustaka

Ahmad D. Marimba,  Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Al-Ma’arif bandung, 1980.

Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000.

 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Rosdakarya,        Bandung, 1994.

Burlian Somad, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam,Al-Ma’arif, Bandung, 1981.

Fazlur rahman, Major Themes of the Qur’an, terj. Mahyudin, Anas, Tema-Tema Pokok Al-Qur’an, Pustaka, Bandung.

H. A. R. Tilar, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Persfektif Abad 21, cet I, Tera Indonesia, Magelang, 1998.

Muhammad Quthb, Manhaj Al-Tarbiyah Al-Islamiyah, Dar al-Syuruq, Kairo,1400 H. cet.IV, jilid I.

Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1999.

Syed Muhammad al-Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam : Suatu Kerangka Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, Mizan, Bandung, 1994.

Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, Ruhama, Jakarta, 1994.

UU. Republik Indonesia No. 20. Th 2003 Tetang Sistem Pendidikan nasional.

About admin