Efektivitas Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran Fiqih

Muhammad Zaky Akhbar Hasan, M.Pd.

Abstrak
Kesimpulan dari penelitian ini bahwa metode demonstrasi yang digunakan sebagai metode yang
dapat mengefektifkan pembelajaran fiqih dan memberikan dampak positif.  Metode yang digunakan adalah metode penelitian lapangan. Subjek penelitian lapangan ini adalah siswa Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Rancasari Pamanukan dengan jenis penelitian deskriftif kuantitatif, dimana hasil penelitian disajikan dalam bentuk angka dan diperjelas dengan narasi deskriftif. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas V MI Miftahul Huda Rancasari Pamanukan. Metode yang digunakan yaitu observasi, wawancara, angket, dokumentasi dan teknik tes. Sedangkan teknik analisa data yang digunakan adalah analisa uji ”t”.


Kata Kunci: Efektivitas, Metode , dan Pembelajaran Fiqih

A. Pendahuluan

Agama merupakan keharusan bermasayarakat, karena manusia adalah makhluk sosial. Ia lahir, hidup dan mati dalam masyarakat. Kehidupan social tentu menimbulkan interaksi social yang akan melahirkan hak dan kewajiban. Agama memelihara hak-hak asasi mencegah penganiayaan dan merampas hak orang lain. Agama adalah ciptaan Allah Yang Maha Mengetahui kemaslahatan hamba. Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum-hukum bagi manusia.[1]

Agama berfungsi melindungi kehidupan duniawi dari bahaya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Karena pengetahuan dan teknologi disamping alat kemajuan, juga merupakan alat penghancur dan pemusnah manusia. Untuk itu pengajaran pendidikan agama Islam membina anak didik untuk beriman kepada Allah, mencintai, mentaatiNya dan berkepribadian yang mulia. Karena anak didik, terutama pada tingkat dasar, akan memiliki akhlak mulia melalui pengalaman sikap, dan kebiasaan-kebiasaan yang akan membina kepribadiannya pada masa depan.[2]

Pendidikan Agama Islam sebagai mata pelajaran wajib di seluruh sekolah di Indonesia berperan untuk mempercepat proses pencapaian tujuan pendidikan Nasional, yang secara sederhana meliputi; berkembangnya potensi peserta didik, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif dan mandiri. Menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.[3]

Dalam upaya mencapai tujuan tersebut dalam lingkungan pendidikan mestinya ada semangat keagamaan yang mendominasi, hal tersebut berpengaruh pada pembinaan kestabilan emosi, akhlak mulia dan prinsip-prinsip sosial yang baik bagi kehidupan siswa.[4]

Jika pendidik menginginkan agar tujuan pendidikan tercapai secara efektif dan efisien, maka penguasaan materi saja tidaklah cukup. Ia harus menguasai berbagai teknik atau metode penyampaian yang tepat dalam proses belajar mengajar. Ia juga dapat mempergunakan metode mengajar secara bervariasi, sebab masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Sehingga dalam penggunaannya pendidik harus menyesuaikan dengan materi yang diajarkan dan kemampuan peserta didik. Pemilihan teknik dan metode yang tepat memerlukan keahlian tersendiri, sehingga pendidik harus pandai memilih dan menerapkannya Guna memenuhi kebutuhan tersebut, pengajaran harus bersifat multisensori dan penuh variasi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara beragam dan dalam semua mata pelajaran. Guru dalam menyampaikan mata pelajaran bukan hanya dengan metode ceramah atau auditori-guru berbicara murid mendengarkan tanpa ada feedback (umpan balik) namun guru harus menggabungkan ranah visual dan kinestetik.

Pada dasarnya metode yang dipakai dalam pendidikan secara umum tidak beda jauh dengan metode yang dipakai dalam pendidikan agama Islam. Metode-metode yang dipakai dalam pendidikan agama Islam banyak macamnya dan tentu saja dapat kita kembangkan. Dari hasil pengamatan di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Rancasari Pamanukan ditemukan bahwa pelaksanaan proses pembelajaran Fiqih masih kurang menggembirakan. Indikatornya antara lain adanya kecenderungan semakin menurunnya tingkat prestasi belajar siswa dan rendahnya partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran Fiqih. Ini bisa dilihat dari hasil ulangan harian pelajaran Fiqih siswa kelas V yang masih menunjukkan kurang menggembirakan. Kemungkinan besar rendahnya partisipasi siswa dalam pembelajaran Fiqih dikarenakan metode yang digunakan guru terlalu monoton seperti penggunaan metode ceramah saja.


B. Pembahasan

  1. Efektivitas Pembelajaran Fiqih

a. Pengertian Efektivitas

Proses belajar mengajar yang ada baik di sekolah dasar maupun di sekolah menengah, sudah barang tentu mempunyai target bahan ajar yang harus dicapai oleh setiap guru, yang didasarkan pada kurikulum yang berlaku pada saat itu. Kurikulum yang sekarang ada sudah jelas berbeda dengan kurikulum zaman dulu, ini ditenggarai oleh sistem pendidikan dan kebutuhan akan pengetahuan mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Bahan ajar yang banyak terangkum dalam kurikulum tentunya harus disesuaikan dengan waktu yang tersedia pada hari efektif yang ada pada tahun ajaran tersebut. Namun terkadang materi yang ada dikurikum lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Ini sangat ironis sekali dikarenakan semua mata pelajaran dituntut untuk bisa mencapai target tersebut. Untuk itu perlu adanya strategi efektivitas pembelajaran.

Efektivitas berasal dari bahasa inggris yaitu Effective yang berarti berhasil, tepat
atau manjur. Efektivitas menunjukan taraf tercapainya suatu tujuan, suatu usaha dikatakan efektif jika usaha itu mencapai tujuannya. Secara ideal efektivitas dapat dinyatakan dengan ukuran-ukuran yang agak pasti, misalnya usaha X adalah 60% efektif dalam mencapai tujuan Y.

Di dalam kamus bahasa Indonesia Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efektif, pengaruh atau akibat, atau efektif juga dapat diartikan dengan memberikan hasil yang memuaskan. Dari uraian diatas dapat dijelaskan kembali bahwa efektivitas merupakan keterkaitan antara tujuan dan hasil yang dinyatakan, dan menunjukan derajat kesesuaian antara tujuan yang dinyatakan dengan hasil yang dicapai.

Menurut The Liang Gie, efektivitas adalah suatu keadaan yang mendukung pengertian mengenai terjadinya efek atau akibat yang dikehendaki, jika seorang melakukan suatu perbuatan dengan maksud tertentu yang memang dikehendaki, maka itu dikatakan efektif kalau memang menimbulkan akibat dari yang dikehendakinya itu.[5]

b. Kriteria Efektivitas Pembelajaran

Didalam proses belajar mengajar banyak faktor yang mempengaruhi terhadap berhasilnya sebuah pembelajaran, antara lain kurikulum, daya serap, presensi guru, presensi siswa dan prestasi belajar.

1) Kurikulum

Kurikulum berasal dari bahasa latin yaitu “cuciculum”semula berarti “a running course, or race cource, especially a chariot race cource” dan dalam bahasa Prancis “courier” yang berarti “to run” (berlari). Kemudian istilah itu dipergunakan untuk sejumlah “cource” atau mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar atau ijazah. Smith memandang bahwa kurikulum sebagai “a sequence of potencial experience of disciplining children and youth in group ways of thinking acting” yaitu penekanannya pada aspek sosial, yakni mendidik anak menjadi anggota masyarakat. Dari uraian diatas telah jelas bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus dicapai/ diselesaikan oleh peserta didik untuk mendapatkan ijazah.

Sebelum abad ke-20 setelah kurikulum belum banyak digunakan dalam kontek pendidikan. Para ahli mencatat bahwa konsep-konsep tentang kurikulum mulai berkembang sejak dipublikannya sebuah buku yang berjudul “The Curriculum” yang ditulis oleh Franklin Bobblilt pada tahun 1918. Yang pada garis besarnya berisi tentang kurikulum sebagai rencana pelajaran atau bahan ajaran, kurikulum sebagai pengalaman belajar dan kurikulum sebagai rencana belajar.

Kurikulum adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi dibawah Pengawasan sekolah, jadi selain kegiatan kurikuler yang formal juga kegiatan yang tak formal.[6] Selain itu, kurikulum juga adalah sesuatu yang di inginkan atau dicita-citakan untuk anak didik artinya hasil belajar yang diinginkan yang diniati agar dimiliki anak.[7]

Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Pasal 1 Ayat 19, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, tambahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.[8]

2) Daya Serap

Didalam kamus besar bahasa Indonesia, daya serap diartikan sebagai kemampuan seseorang atau suatu menyerap. Daya serap yang di maksud disini adalah kemampuan siswa untuk menyerap atau menguasai materi/ bahan ajar yang di pelajarinya sesuai dengan bahan ajar tersebut yang meliputi:

a) Efektifitas Kurikulum Pendidikan Agama Islam

Efektifitas kurikulum Pendidikan Agama Islam dapat digambarkan yaitu merupakan poroses belajar mengajar yang membahas tentang bahan ajar Pendidikan Agama Islam dengan segenap komponen yang ada termasuk didalamnya metode yang digunakan agar siswa dapat mengembangkan kemampuan memahami, menghayati dan mengamalkan kehidupan sehari-hari melalui materi Al-Qur’an dan hadits, Aqidah, akhlakul karimah, Fiqh dan Tarikh Islam.


b) Daya Serap Terhadap Materi Pelajaran

Daya serap merupakan sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap mata pelajaran yang diajarkan oleh seorang guru dalam Proses Kegiatan Belajar Mengajar. Pemahaman ini juga banyak faktor yang mempengaruhinya seperti, minat siswa terhadap mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam, lingkungan yang kondusif, bahkan guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang bersahabat dengan siswa.


c) Evaluasi Hasil Belajar

Kegiatan evaluasi atau menilai hasil-hasil dari belajar siswa merupakan tindak lanjut dari semua rangkaian aktivitas pembelajaran. Evaluasi ini bermaksud untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami dan menyerap materi pelajaran yang telah diberikan oleh seorang guru dalam melaksanakan tugas belajar di kelas. Kegiatan evaluasi ini tentu akan menjadi pedoman baik untuk guru atau siswa, dimana akan terlihat dengan jelas letak kekurangan-kekurangan yang ada, sehingga akan menjadi tolak ukur dan perbaikan untuk masa yang akan datang.

 
3) Presensi Guru dan Murid

Kemudian siswanyapun secara keseluruhan kehadiran disekolah untuk melakukan pembelajaran 90% aktif. Jadi dengan demikian presensi atau kehadiran antara siswa dan guru sangat baik sekali. Secara bahasa presensi berarti kehadiran, guru merupakan orang yang paling berpengaruh disekolah yang harus bisa membimbing dan memberikan contoh yang baik kepada siswanya. Seorang guru yang tidak hadir untuk memberikan materi pelajaran akan dampak yang kurang baik untuk siswanya, mereka akan mencontoh apa yang dilakukan oleh pembimbingnya, secara metematis, guru disekolah dalam memberikan materi pelajarannya seharusnya lebih banyak melakukan pertemuan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan atau diprosentasekan guru harus sering melakukan tatap muka dengan siswa.

 
4) Prestasi Belajar

Secara bahasa prestasi adalah hasil yang telah di capai (dari yang telah dikerjakan atau dilakukan). Menurut Muray prestasi adalah mengatasi hambatan, melatih kekuatan, berusaha melakukan sesuatu yang sulit dengan baik dan secepat mungkin. Sedangkan Abdul Kohar, berpendapat bahwa prestasi adalah segala sesuatu yang telah dapat diciptakan hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Selain itu, Djamarah juga mendefinisikan prestasi adalah hasil dari
kegiatan yang telah dikerjakan diciptakan baik secara individual maupun kelompok.

Jadi prestasi adalah segala sesuatu yang ada yang diperoleh dengan cara atau proses mengatasi, mengerjakan atau melatih dengan baik yang dilakukan oleh individu maupun kelompok. Dalam kehidupan manusia belajar sangatlah penting, manusia selalu dan senantiasa belajar kapanpun dan dimanapun dia berada. Tidak ada batasan dalam belajar, manusia diperintahkan untuk belajar sepanjang hayatnya.

2. Metode Demonstrasi

a. Pengertian

Metode Demonstrasi adalah metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan pada seluruh kelas tentang suatu proses atau suatu kaifiyah melakukan sesuatu. Demonstrasi merupakan metode yang sangat efektif sebab membantu anak didik untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta yang benar.

Metode ini dapat diterapakan dalam pelajaran Fiqih, khususnya yang terkait dengan materi ketrampilan, seperti praktek sholat, tayanum dan sebagainya. Tetapi tidak semua materi pelajaran Fiqih bisa didemonstrasikan, misalnya masalah aqidah yang menjelaskan iman kepada allah, malaikat, surga, neraka dan lain-lain.

b. Tujuan dan Kegunaan Metode Demonstrasi, antara lain:

  1. Untuk memudahkan penjelasan sebab penggunaan bahasa lebih terbatas
  2. Untuk membantu anak dalam memahami dengan jelas jalannya suatu proses dengan penuh perhatian.
  3. Untuk menghindari verbalisme
  4. Cocok digunakan apabila akan memberikan keterampilan tertentu.

c. Langkah-Langkah Metode Demonstrasi

Beberapa petunjuk penggunaan metode demonstrasi:

1)  Perencanaan :

a) Menentukan tujuan demonstrasi;

b) Menetapkan langkah-langkah pokok demonstrasi;

c) Menyiapkan alat-alat yang diperlukan;


2)  Pelaksanaan :

  1. Mengusahakan agar demonstrasi dapat diikuti dan diamati oleh seluruh siswa
  2. Menumbuhkan sikap krisis pada siswa sehingga terjadi Tanya jawab, dan diskusi tentang masalah yang didemonstrasikan;
  3. Memberi kesempatan pada setiap siswa untuk mencoba sehingga siswa merasa yakin tentang suatu proses;
  4. Membuat penilaian dari kegiatan siswa dalam demonstrasi tersebut

3) Tindak lanjut

  1. Pemberian tugas kepada siswa dari secara tertulis maupun tulisan
  2. Penilaian terhadap laporan hasil demonstrasi

3. Analisis Data Efektivitas Pembelajaran Fiqih Menggunakan Metode Demonstrasi

Untuk mengetahui efektivitas pembelajaran fiqih dengan menggunakan metode demonstrasi di Kelas V Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Rancasari Pamanukan, penulis telah melakukan tes terhadap 20 orang siswa yang menjadi sampel penelitian, tes pertama (Pretest) dilakukan untuk mengetahui hasil belajar (kemampuan awal) siswa dalam memahami materi pelajaran setelah diadakan kegaiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode ceramah, materi yang diujikan adalah tentang shalat.

Berdasarkan hasil analisa dapat diketahui bahwa siswa yang yang memperoleh nilai 56 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang yang memperoleh nilai 59 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang yang memperoleh nilai 60 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang yang memperoleh nilai 66 ada 2 orang (6,67%), Siswa yang yang memperoleh nilai 68 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang yang memperoleh nilai 71 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang yang memperoleh nilai 74 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang yang memperoleh nilai 76 ada 2 orang (6,67%), Siswa yang yang memperoleh nilai 78 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang yang memperoleh nilai 80 ada 2 orang (6,67%), Siswa yang yang memperoleh nilai 81 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang yang memperoleh nilai 83 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang yang memperoleh nilai 84 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang yang memperoleh nilai 85 ada 3 orang (10,00%), Siswa yang yang memperoleh nilai 84 ada 1 orang (3,33%).

Selanjutnya menentukan kategori skor tinggi, sedang, rendah, dari hasil perhitungan dapat diketahui skor tinggi adalah 84,56 dibulatkan menjadi 85,00 ke atas, skor rendah adalah 65,54 dibulatkan menjadi 65,00 kebawah dan skor sedang antara 65,00 sampai dengan 85,00. Selanjutnya kita akan menentukan presentase skor hasil tes siswa. Berdasarkan analisis dapat diketahui bahwa prestasi belajar siswa Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Rancasari Pamanukan tergolong sedang, hal ini terbukti dari siswa yang mendapat skor tinggi sebanyak 4 orang (20,00%), siswa yang mendapat skor sedang 13 orang (66,67%), dan siswa yang mendapat skor rendah hanya 3 orang (13,33%). Sedangkan jika mengacu pada kriteria pengukuran keberhasilan belajar siswa dengan menggunakan nilai standar berskala 100, kriteria pengukuran dapat ditentukan sebagai berikut, Nilai 80 ke atas diberi predikat baik sekali, nilai 66-79 diberi predikat baik, nilai 56-65 diberi predikat cukup, nilai 46-55 diberi predikat kurang dan nilai 45 kebawah diberi predikat gagal. Yang mendapat nilai 66-79 dengan dengan prediksi baik sebanyak 13 orang (56,67%), dan siswa yang mendapat nilai 56-65 dengan predikat cukup hanya 3 orang (13,33%).

Setelah pelaksanaan tes awal, selanjutnya pada tahap kedua proses belajar mengajar selesai diadakan tes kedua dengan materi ujian yang sama pada tes awal. Berdasarkan hasil tes kedua yang diselenggarakan setelah kegiatan belajar mengajar menggunakan metode demonstrasi. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai 74 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang memperoleh nilai 76 ada 2 orang (6,67%),
Siswa yang memperoleh nilai 77 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang memperoleh nilai 80 ada 3 orang (10.00%), Siswa yang memperoleh nilai 82 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang memperoleh nilai 83 ada 2 orang (6,67%), Siswa yang memperoleh nilai 85 ada 4 orang (13,33%), Siswa yang memperoleh nilai 86 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang memperoleh nilai 90 ada 3 orang (10.00%), Siswa yang memperoleh nilai 94 ada 1 orang (3,33%), Siswa yang memperoleh nilai 95 ada 1 orang (3,33%).

Berdasarkan hasil tes kedua (postes) akan ditentukan nilai rata-rata keseluruhan hasil tes siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Rancasari Pamanukan dan dapat diketahui bahwa nilai prestasi belajar siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Rancasari Pamanukan tergolong sedang, hal ini terbukti dari siswa yang mendapat skor yang tinggi sebanyak 2 orang (16,67%), siswa yang mendapat skor sedang 15 orang (56,67%), dan siswa yang mendapat skor rendah hanya 3 orang (26,66%). Hasil analisis pada tes kedua siswa yang mendapat nilai 80 keatas dengan predikat baik sekali sebanyak 16 orang (53,33%) dan siswa yang mendapat nilai 66-79 dengan predikat baik sebanyak 2 orang (16,67%).
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut diketahui (to) sebesar 2,99, setelah dikonsultasikan dengan tabel “t” dengan db 30, nilai ttab = 2,04 dengan demikian thit lebih besar dibandingkan antara tes pertama tn kedua signifikan.

Dengan demikian karena thitung (to) lebih besar dari tabel ttabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya terdapat efektivitas (pengaruh) yang positif dan signifikan antara metode demonstrasi dan resitasi dalam pembelajaran fiqih khususnya pada materi shalat.

4. Faktor Pendukung dan Penghambat Metode Demonstarsi

a. Faktor Pendukung Metode Demonstrasi

  1. Perhatian siswa lebih mudah dipusatkan pada proses belajar dan tidak tertuju pada hal-hal lain.
    1. Dapat mengurangi kesalahan dalam mengambil kesimpulan, apabila dibandingkan dengan halnya membaca buku karena siswa mengamati langsung terhadap suatu proses yang jelas.
    1. Apabila siswa turut aktif dalam sesuatu percobaan yang bersifat demonstrative maka anak didik akan memperoleh pengalaman-pengalaman praktis yang dapat membentuk perasaan dan kemampuan anak, serta dapat mengembangkan kecakapannya.


b. Faktor Penghambat Metode Demonstrasi

  1. Demonstrasi akan menjadi metode yang kurang tepat apabil alat-alat yang didemonstrasikan tidak memadai atau tidak sesuai kebutuhan.
    1. Demonstrasi menjadi kurang efektif apabila tidak diikuti dengan sebuah aktivitas dimana siswa sendiri dapat ikut berekperimen dan tidak dapat menjadikan ativitas itu sebagai pengalaman yang berharga.
    1. Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di dalam kelas.


C. Kesimpulan

Dalam Penerapan metode demonstrasi di kelas V Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Rancasari Pamanukan tergolong sedang, hal ini terbukti dari persentase jawaban ”ya” sebanyak 8 orang (26,67%), jawaban ”tidak” sebanyak 16 orang (53,33%) dan jawaban ”tadak
pernah sama sekali” sebanyak 6 orang (20,00%). Selanjutnya terdapat perbedaan hasil belajar Fiqih siswa kelas V MIN Miftahul Huda Rancasari Pamanukan dengan menggunakan metode demonstrasi, hal ini terbukti adanya perbedaan rata-rata nilai tes awal 75,05 menjadi
83,8 pada tes akhir. Artinya terjadi peningkatan nilai rata-rata sebesar 8,75.

Sedangkan efektivitas penggunaan metode demonstrasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar fiqih siswa kelas V MI Miftahul Huda Rancasari Pamanukan terutama dalam materi shalat. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil perhitungan perbedaan mean tes awal dan tes akhir. Dari perhitungan tersebut diketahui thit (to) sebesar -2,99 (tanda minus dalam hal ini tidak sama dengan tanda-dalam operasi aljabar) sehingga nilai -2,99 = 2,99. Sehingga dikonsultasikan dengan tabel ”t” dengan db 30, nilai ttab=2,04. Dengan demikian thit lebih besar dari ttab atau 2,99 >2,04. Jadi perbedaan antara tes pertama dan kedua signifikan.

Daftar Pustaka

Abdul Qadir Ahmad, Muhammad. 2008. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Rineka Cipta.

 
Liang Gie, The. 1998. Ensiklopedi Administrasi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

 
Sudjana, Nana. 2005. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Disekolah. Sinar Baru: Algen Sindo.


Sukmadinata, Syaodih. 2005. Pengembangan kurikulum teori dan praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.


Sunjaya, Wina. 2005. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. tt: tp.


[1] Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Rineka Cipta, 2008, hal. 11-12.

[2] Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, …, hal. 15.

[3] Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, …, hal. 42-43.

[4] Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, …, hal. 18.

[5] The Liang Gie, Administrasi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1998, hal. 108

[6]  Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Sinar Baru: Algen Sindo 2005, hal. 3.

[7]  Syaodih Sukmadinata,  Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005, hal 4-6.

[8]  Wina Sunjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, tt: tp., 2005, hal.2-5

About admin